MAKALAH
RUMAH
ADAT JAWA
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
SEJARAH
JAWA
Dosen
Pembimbing :
Dr. Teguh, M.Ag.
Disusun
oleh :
·
Nur Amita Bachan (
17302163008 )
·
M. Riza Saputra ( 17302163015 )
JURUSAN : FILSAFAT AGAMA I-A
FAKULTAS USSHULUDIN, ADAB & DAKWAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
TAHUN
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT.
Atas segala limpahan rahmat, taufik,
hidayahnya, serta Inayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas yang diberikan. Sholawat serta salam semoga
tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa
kita dari zaman jahiliyah menuju zaman terang benderang, yakni addinul Islam.
Semoga kita mendapat syafa’atnya min yaumil kiyamah. Amin.
Tidak lupa penyusun mengucapkan
terima kasih kepada:
•
Dr. Maftukhin, M.Ag, selaku Rektor IAIN Tulungagung yang
telah memberi izin kepada kami untuk melanjutkan study.
•
Dr. Teguh, M.Ag. selaku dosen pembimbing mata kuliah sejarah jawa yang telah memberikan
bimbingan serta pengarahan atas pembuatan tugas ini.
•
Admin pendidikan selaku tenaga kerja perpustakaan.
•
Kedua orang tua yang telah memberikan bantuan materi dan
moril.
•
Serta semua pihak yang telah membantu terwujudnya makalah
ini.
Penyusun menyadari bahwa yang
disajikan dalam makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penyusun
mengharapkan kepada semua pihak atas kritik dan saran dari kesempurnaan makalah
ini.
Akhirnya dengan mengucapkan syukur
Alhamdulillah atas terselesainya tugas makalah ini dan semoga bermanfaat bagi
kita semua, Amin.
Tulungagung, 20 Oktober 2016
Penyusun,
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.......................................................................................
i
DAFTAR
ISI.....................................................................................................ii
BAB
I PENDAHULUAN
Latar Belakang...........................................................................................1
Rumusan Masalah.......................................................................................1
Tujuan..........................................................................................................1
BAB
II PEMBAHASAN
A. Rumah
adat jawa.................................................................................. 2
B. Rumah
adat joglo dan filosofisnya........................................................5
BAB
III PENUTUP
Kesimpulan................................................................................................ 6
Saran........................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Di indonesia sangatlah banyak rumah-rumah yang didalamnya mempunyai artian
tersendiri didalam daerahnya masing-masing, dengan kata lain rumah adat yang merupakan
bangunan rumah yang mencirikan atau mempunyai kekhasan bangunan suatu daerah di
indonesia dan melambangkan kebudayaan dan ciri khas masyarakat setempat.
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman dan kekayaan budaya,
beraneka ragam bahasa dan suku dari sabang sampai dengan merauke, sehingga
indonesia memiliki banyak koleksi rumah-rumah adat yang indah dengan
hiasan-hiasan ukiran pada jaman dahulu.
Hingga saat ini masih banyak suku dan daerah-daerah di indonesia yang masih
mempertahankan rumah adat sebagai usaha untuk memelihara nilai-nilai kebudayaan
yang kian tergeser oleh budaya mordernisasi. Biasanya rumah adat tertentu
dijadikan sebagai aula (tempat pertemuan), musium, atau dibiarkan begitu saja
sebagai objek wisata. Karena bentuk dan aksitektur rumah-rumah adat daerah di
indonesia, yang memiliki bentuk dan arsitektur yang berbeda-beda sesuai dengan
nuansa adat setempat, misalnya rumah adat jawa yang sampai saat ini masih ada
dan berdiri layaknya rumah adat jawa yang dikenal dengan nama rumah adat joglo,
yang memiliki atap mengerucut, seperti pada umumnya sebuah hiasan ukiran-ukiran
indah tradisional yang tampak paling indah, biasa dimiliki oleh para keluarga
kerajaan atau ketua adat setempat dengan mengunakan kayu-kayu pilihan dan
pengerjaannya dilakuhkan secara tradisional melibatkan tenaga ahli dibidangnya.
Dan banyak rumah-rumah adat yang saat ini masih berdiri kokoh dan sengaja
dipertahankan dan dilestarikan sebagai simbol akan budaya indonesia.
Rumusan Masalah
a. Apa itu rumah adat jawa ?
b. Rumah adat joglo dan filosofisnya ?
Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui sejarah rumah adat jawa
b. Untuk mengetahui rumah adat joglo
dan filosofisnya
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Rumah adat jawa
Budihardjo
(1994:57) rumah adalah aktualisasi diri yang diejawantahkan dalam bentuk kreativitas
dan pemberian makna bagi kehidupan penghuninya. Selain itu rumah adalah
cerminan diri, yang disebut Pedro Arrupe sebagai ”Status Conferring
Function”, kesuksesan seseorang tercermin dari rumah dan lingkungan tempat
huniannya. Dan Rumah
Adat jawa merupakan lambang status dan menyimpan rahasia tentang kehidupan
penghuninya dan rumah adat jawa pula sangat berkaitan dengan dunia batin yang
tidak lepas dari kehidupan masyaarakatnya.[1]
Bangunan rumah adat jawa memiliki ciri khas khusus, digunakan untuk tempat
hunian oleh suatu suku bangsa tertentu, dan merupakan salah satu representasi
kebudayaan yang paling tinggi dalam sebuah komunitas suku/masyarakat. Keberadaan
rumah adat jawa diIndonesia
sangat beragam dan mempunyai arti yang penting dalam perspektif sejarah,
warisan, dan kemajuan masyarakat dalam sebuah peradaban.
Rumah-rumah adat jawa di Indonesia memiliki bentuk dan
arsitektur masing-masing daerah sesuai dengan budaya adat lokal. Rumah adat jawa pada umumnya dihiasi
ukiran-ukiran indah, pada
jaman dulu. rumah adat
jawa yang tampak paling indah biasa dimiliki
para keluarga kerajaan atau ketua adat setempat menggunakan kayu-kayu pilihan
dan pengerjaannya dilakukan secara tradisional melibatkan tenaga ahli
dibidangnya, Seiring perkembangan zaman, maka terjadi pula perubahan kebutuhan
bangunan manusia di zaman yang baru ini. Rumah adat jawa atau rumah tradisional
pun banyak yang mengalami perubahan dan tidak sedikit rumah adat atau
tradisional yang hampir punah. Kebutuhan manusia yang berubah menyebabkan
terjadinya perubahan pada kebutuhan bangunan yang kurang sesuai dengan yang ada
sebelumnya. Tidak jarang rumah tradisional atau rumah adat jawa yang ada mengalami
perubahan dan tidak memperhatikan nilai filosofis yang seharusnya diperhatikan.
B.
Rumah adat joglo dan filosofisnya
Rumah joglo merupakan bangunan arsitektur tradisional
jawa. Dan rumah adat joglo juga dapat diartikan sebagai jenis rumah adat suku
jawa yang terlihat sederhana dan digunakan sebagai lambang atau penanda status
sosial serta nilai kebudayaan, yang didalamnya mempunyai keunikan dan ciri khas
tersendiri serta fungsi yang berbeda.[2] rumah
joglo mempunyai kerangka bangunan utama yang terdiri dari soko guru berupa
empat tiang utama penyangga struktur bangunan serta tumpang sari yang berupa
susunan balok yang disangga soko guru. Susunan ruangan pada Joglo umumnya
dibagi menjadi tiga bagian yaitu ruangan pertemuan yang disebut pendhapa, ruang
tengah atau ruang yang dipakai untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit
disebut pringgitan, dan ruang belakang yang disebut dalem atau omah jero
sebagai ruang keluarga. Dalam ruang ini
terdapat tiga buah senthong (kamar) yaitu senthong kiri, tengah, dan kanan.
Terjadi penerapan prinsip hirarki dalam pola
penataan ruangnya. Setiap ruangan memiliki perbedaan nilai, ruang bagian depan
bersifat umum (publik) dan bagian belakang bersifat khusus (pribadi/privat).
Uniknya, setiap ruangan dari bagian teras, pendopo sampai bagian belakang
(pawon dan pekiwan) tidak hanya memiliki fungsi tetapi juga sarat dengan unsur
filosofi hidup etnis Jawa. Unsur religi/kepercayaan terhadap dewa diwujudkan
dengan ruang pemujaan terhadap Dewi Sri (Dewi kesuburan dan kebahagiaan rumah
tangga) sesuai dengan mata pencaharian masyarakat Jawa (petani-agraris). Ruang
tersebut disebut krobongan, yaitu kamar yang selalu kosong, namun lengkap
dengan ranjang, kasur, bantal, dan guling dan bisa juga digunakan untuk malam
pertama bagi pengantin baru.
Jadi dalam pemetaan ruang didalam rumah adat Joglo, meliputi tiga pemetaan di
dalam ruang utama yaitu :[3]
1.
Pendopo
Pendopo letaknya di depan, dan tidak mempunyai dinding
atau terbuka, hal ini berkaitan dengan filosofi orang Jawa yang selalu bersikap
ramah, terbuka dan tidak memilih dalam
hal menerima tamu. Pada umumnya pendopo tidak di beri meja ataupun kursi, hanya
diberi tikar apabila ada tamu yang datang, sehingga antara tamu dan yang punya
rumah mempunyai kesetaraan dan juga dalam hal pembicaraan atau ngobrol terasa
akrab rukun (rukun agawe santosa).
2.
Pringgitan,
Pringgitan memiliki makna konseptual yaitu tempat untuk
memperlihatkan diri sebagai simbolisasi dari pemilik rumah bahwa dirinya hanya
merupakan bayang-bayang atau wayang dari Dewi Sri (dewi padi) yang merupakan
sumber segala kehidupan, kesuburan, dan kebahagiaan. Menurut Rahmanu Widayat,
pringgitan adalah ruang antara pendhapa dan dalem sebagai tempat untuk
pertunjukan wayang (ringgit), yaitu pertunjukan yang berhubungan dengan upacara
ruwatan untuk anak sukerta (anak yang menjadi mangsa Bathara Kala, dewa raksasa
yang maha hebat).
3.
Dhalem.
Dalem
atau ruang utama dari rumah joglo ini merupakan ruang pribadi pemilik rumah.
Dalam ruang utama dalem ini ada beberapa bagian yaitu ruang keluarga dan
beberapa kamar atau yang disebut senthong. Pada masa dulu, kamar atau senthong
hanya dibuat tiga kamar saja, dan peruntukkan kamar inipun otomatis hanya
menjadi tiga yaitu kamar pertama untuk tidur atau istirahat laki-laki kamar
kedua kosong namun tetap diisi tempat tidur atau amben lengkap dengan
perlengkapan tidur, dan yang ketiga diperuntukkan tempat tidur atau istirahat
kaum perempuan. Kamar yang kedua atau yang tengah biasa disebut dengan
krobongan yaitu tempat untuk menyimpan pusaka dan tempat pemujaan terhadap Dewi
Sri. Senthong tengah atau krobongan merupakan tempat paling suci/privat bagi
penghuninya. Di dalam dalem atau krobongan disimpan harta pusaka yang bermakna
gaib serta padi hasil panen pertama, DewiSri juga dianggap sebagai pemilik dan
nyonya rumah yang sebenarnya. Di dalam krobongan terdapat ranjang, kasur,
bantal, dan guling, adalah kamar malam pertama bagi para pengantin baru, hal
ini dimaknai sebagai peristiwa kosmis penyatuan Dewa Kamajaya dengan Dewi Kama
Ratih yakni dewa-dewi cinta asmara perkawinanDi dalam rumah tradisi Jawa
bangsawan Yogyakarta, senthong tengah atau krobongan berisi bermacam-macam
benda-benda lambang (perlengkapan) yang mempunyai kesatuan arti yang sakral
(suci).Macam-macam benda lambang itu berbeda dengan benda-benda lambang petani.
Namun keduanya mempunyai arti lambang kesuburan, kebahagiaan rumah tangga yang
perwujudannya adalah Dewi Sri
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Rumah
Adat jawa merupakan lambang status dan menyimpan rahasia tentang kehidupan
penghuninya dan rumah adat jawa pula sangat berkaitan dengan dunia batin yang
tidak lepas dari kehidupan masyaarakatnya. Layaknya rumah adat jawa joglo yang
mempunyai filosofis tertentu didalam rumah adat tersebut serta jenis rumah adat
suku jawa yang terlihat sederhana dan digunakan sebagai lambang atau penanda
status sosial serta nilai kebudayaan, yang didalamnya mempunyai keunikan dan
ciri khas tersendiri serta fungsi yang berbeda.
Saran
Dari penulisan yang dilakukan di IAIN Tulungagung dan di pusat belajar
bersama IAIN Tulungagung maka penulis memberikan saran sebagai berikut: Untuk
para pembaca : marilah kita menciptakan inovasi-inovasi baru yang berguna bagi
diri sendiri dan orang lain, dan juga kembangkanlah makalah ini agar dapat
menjadi kesempurnaan
DAFTAR
PUSTAKA
·
S.Pandanaran, singgih. 2012. Misteri bumi jawa, yogyakarta; In Azna
Books.
·
http://kebudayaan1.blogspot.co.id/2013/10/rumah-adat-jawa-tengah-joglo.html.minggu/16-10-2016/20.46.

Coba pakai bhasa ngoko dung
BalasHapusWah makasih makalahnya😍🙏
BalasHapusBuat nugas😊