Rabu, 01 Maret 2017

MAKALAH KU_ JOGLO-RUMAH ADAT JAWA

MAKALAH
RUMAH ADAT JAWA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
SEJARAH JAWA
Dosen Pembimbing :
Dr. Teguh, M.Ag.


Disusun oleh :

·           Nur Amita Bachan                   ( 17302163008 )
·           M. Riza Saputra                       ( 17302163015 )

JURUSAN   :  FILSAFAT AGAMA I-A
FAKULTAS USSHULUDIN, ADAB & DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
TAHUN 2016



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. Atas segala limpahan  rahmat, taufik, hidayahnya, serta Inayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas  yang diberikan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman terang benderang, yakni addinul Islam. Semoga kita mendapat syafa’atnya min yaumil kiyamah. Amin.
Tidak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
         Dr. Maftukhin, M.Ag, selaku Rektor IAIN Tulungagung yang telah memberi izin kepada kami untuk melanjutkan study.
         Dr. Teguh, M.Ag. selaku dosen pembimbing mata kuliah sejarah jawa yang telah memberikan bimbingan serta pengarahan atas pembuatan tugas ini.
         Admin pendidikan selaku tenaga kerja perpustakaan.
         Kedua orang tua yang telah memberikan bantuan materi dan moril.
         Serta semua pihak yang telah membantu terwujudnya makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa yang disajikan dalam makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penyusun mengharapkan kepada semua pihak atas kritik dan saran dari kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah atas terselesainya tugas makalah ini dan semoga bermanfaat bagi kita semua, Amin.

Tulungagung, 20 Oktober 2016


         Penyusun,



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI.....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
   Latar Belakang...........................................................................................1
       Rumusan Masalah.......................................................................................1
       Tujuan..........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Rumah adat jawa.................................................................................. 2
B.     Rumah adat joglo dan filosofisnya........................................................5

BAB III PENUTUP
  Kesimpulan................................................................................................  6
        Saran........................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di indonesia sangatlah banyak rumah-rumah yang didalamnya mempunyai artian tersendiri didalam daerahnya masing-masing, dengan kata lain rumah adat yang merupakan bangunan rumah yang mencirikan atau mempunyai kekhasan bangunan suatu daerah di indonesia dan melambangkan kebudayaan dan ciri khas masyarakat setempat. Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman dan kekayaan budaya, beraneka ragam bahasa dan suku dari sabang sampai dengan merauke, sehingga indonesia memiliki banyak koleksi rumah-rumah adat yang indah dengan hiasan-hiasan ukiran pada jaman dahulu.
Hingga saat ini masih banyak suku dan daerah-daerah di indonesia yang masih mempertahankan rumah adat sebagai usaha untuk memelihara nilai-nilai kebudayaan yang kian tergeser oleh budaya mordernisasi. Biasanya rumah adat tertentu dijadikan sebagai aula (tempat pertemuan), musium, atau dibiarkan begitu saja sebagai objek wisata. Karena bentuk dan aksitektur rumah-rumah adat daerah di indonesia, yang memiliki bentuk dan arsitektur yang berbeda-beda sesuai dengan nuansa adat setempat, misalnya rumah adat jawa yang sampai saat ini masih ada dan berdiri layaknya rumah adat jawa yang dikenal dengan nama rumah adat joglo, yang memiliki atap mengerucut, seperti pada umumnya sebuah hiasan ukiran-ukiran indah tradisional yang tampak paling indah, biasa dimiliki oleh para keluarga kerajaan atau ketua adat setempat dengan mengunakan kayu-kayu pilihan dan pengerjaannya dilakuhkan secara tradisional melibatkan tenaga ahli dibidangnya. Dan banyak rumah-rumah adat yang saat ini masih berdiri kokoh dan sengaja dipertahankan dan dilestarikan sebagai simbol akan budaya indonesia.

Rumusan Masalah
a.      Apa itu rumah adat jawa ?
b.      Rumah adat joglo dan filosofisnya ?


Tujuan Penulisan
a.      Untuk mengetahui sejarah rumah adat jawa
b.      Untuk mengetahui rumah adat joglo dan filosofisnya




BAB II
PEMBAHASAN
A. Rumah adat jawa
Budihardjo (1994:57) rumah adalah aktualisasi diri yang diejawantahkan dalam bentuk  kreativitas dan pemberian makna bagi kehidupan penghuninya. Selain itu rumah adalah cerminan diri, yang disebut Pedro Arrupe sebagai ”Status Conferring Function”, kesuksesan seseorang tercermin dari rumah dan lingkungan tempat huniannya. Dan Rumah Adat jawa merupakan lambang status dan menyimpan rahasia tentang kehidupan penghuninya dan rumah adat jawa pula sangat berkaitan dengan dunia batin yang tidak lepas dari kehidupan masyaarakatnya.[1]
Bangunan rumah adat jawa memiliki ciri khas khusus, digunakan untuk tempat hunian oleh suatu suku bangsa tertentu, dan merupakan salah satu representasi kebudayaan yang paling tinggi dalam sebuah komunitas suku/masyarakat. Keberadaan rumah adat jawa diIndonesia sangat beragam dan mempunyai arti yang penting dalam perspektif sejarah, warisan, dan kemajuan masyarakat dalam sebuah peradaban.
 Rumah-rumah adat jawa di Indonesia memiliki bentuk dan arsitektur masing-masing daerah sesuai dengan budaya adat lokal. Rumah adat jawa pada umumnya dihiasi ukiran-ukiran indah, pada jaman dulu.  rumah adat jawa yang tampak paling indah biasa dimiliki para keluarga kerajaan atau ketua adat setempat menggunakan kayu-kayu pilihan dan pengerjaannya dilakukan secara tradisional melibatkan tenaga ahli dibidangnya, Seiring perkembangan zaman, maka terjadi pula perubahan kebutuhan bangunan manusia di zaman yang baru ini. Rumah adat jawa atau rumah tradisional pun banyak yang mengalami perubahan dan tidak sedikit rumah adat atau tradisional yang hampir punah. Kebutuhan manusia yang berubah menyebabkan terjadinya perubahan pada kebutuhan bangunan yang kurang sesuai dengan yang ada sebelumnya. Tidak jarang rumah tradisional atau rumah adat jawa yang ada mengalami perubahan dan tidak memperhatikan nilai filosofis yang seharusnya diperhatikan.




B. Rumah adat joglo dan filosofisnya

Rumah joglo merupakan bangunan arsitektur tradisional jawa. Dan rumah adat joglo juga dapat diartikan sebagai jenis rumah adat suku jawa yang terlihat sederhana dan digunakan sebagai lambang atau penanda status sosial serta nilai kebudayaan, yang didalamnya mempunyai keunikan dan ciri khas tersendiri serta fungsi yang berbeda.[2] rumah joglo mempunyai kerangka bangunan utama yang terdiri dari soko guru berupa empat tiang utama penyangga struktur bangunan serta tumpang sari yang berupa susunan balok yang disangga soko guru. Susunan ruangan pada Joglo umumnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu ruangan pertemuan yang disebut pendhapa, ruang tengah atau ruang yang dipakai untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit disebut pringgitan, dan ruang belakang yang disebut dalem atau omah jero sebagai ruang keluarga. Dalam ruang ini terdapat tiga buah senthong (kamar) yaitu senthong kiri, tengah, dan kanan.
Terjadi penerapan prinsip hirarki dalam pola penataan ruangnya. Setiap ruangan memiliki perbedaan nilai, ruang bagian depan bersifat umum (publik) dan bagian belakang bersifat khusus (pribadi/privat). Uniknya, setiap ruangan dari bagian teras, pendopo sampai bagian belakang (pawon dan pekiwan) tidak hanya memiliki fungsi tetapi juga sarat dengan unsur filosofi hidup etnis Jawa. Unsur religi/kepercayaan terhadap dewa diwujudkan dengan ruang pemujaan terhadap Dewi Sri (Dewi kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga) sesuai dengan mata pencaharian masyarakat Jawa (petani-agraris). Ruang tersebut disebut krobongan, yaitu kamar yang selalu kosong, namun lengkap dengan ranjang, kasur, bantal, dan guling dan bisa juga digunakan untuk malam pertama bagi pengantin baru.



Jadi dalam pemetaan ruang didalam  rumah adat Joglo, meliputi tiga pemetaan di dalam  ruang utama yaitu :[3]
1.      Pendopo
Pendopo letaknya di depan, dan tidak mempunyai dinding atau terbuka, hal ini berkaitan dengan filosofi orang Jawa yang selalu bersikap ramah, terbuka dan tidak  memilih dalam hal menerima tamu. Pada umumnya pendopo tidak di beri meja ataupun kursi, hanya diberi tikar apabila ada tamu yang datang, sehingga antara tamu dan yang punya rumah mempunyai kesetaraan dan juga dalam hal pembicaraan atau ngobrol terasa akrab rukun (rukun agawe santosa).


2.      Pringgitan,
Pringgitan memiliki makna konseptual yaitu tempat untuk memperlihatkan diri sebagai simbolisasi dari pemilik rumah bahwa dirinya hanya merupakan bayang-bayang atau wayang dari Dewi Sri (dewi padi) yang merupakan sumber segala kehidupan, kesuburan, dan kebahagiaan. Menurut Rahmanu Widayat, pringgitan adalah ruang antara pendhapa dan dalem sebagai tempat untuk pertunjukan wayang (ringgit), yaitu pertunjukan yang berhubungan dengan upacara ruwatan untuk anak sukerta (anak yang menjadi mangsa Bathara Kala, dewa raksasa yang maha hebat).


3.       Dhalem.
Dalem atau ruang utama dari rumah joglo ini merupakan ruang pribadi pemilik rumah. Dalam ruang utama dalem ini ada beberapa bagian yaitu ruang keluarga dan beberapa kamar atau yang disebut senthong. Pada masa dulu, kamar atau senthong hanya dibuat tiga kamar saja, dan peruntukkan kamar inipun otomatis hanya menjadi tiga yaitu kamar pertama untuk tidur atau istirahat laki-laki kamar kedua kosong namun tetap diisi tempat tidur atau amben lengkap dengan perlengkapan tidur, dan yang ketiga diperuntukkan tempat tidur atau istirahat kaum perempuan. Kamar yang kedua atau yang tengah biasa disebut dengan krobongan yaitu tempat untuk menyimpan pusaka dan tempat pemujaan terhadap Dewi Sri. Senthong tengah atau krobongan merupakan tempat paling suci/privat bagi penghuninya. Di dalam dalem atau krobongan disimpan harta pusaka yang bermakna gaib serta padi hasil panen pertama, DewiSri juga dianggap sebagai pemilik dan nyonya rumah yang sebenarnya. Di dalam krobongan terdapat ranjang, kasur, bantal, dan guling, adalah kamar malam pertama bagi para pengantin baru, hal ini dimaknai sebagai peristiwa kosmis penyatuan Dewa Kamajaya dengan Dewi Kama Ratih yakni dewa-dewi cinta asmara perkawinanDi dalam rumah tradisi Jawa bangsawan Yogyakarta, senthong tengah atau krobongan berisi bermacam-macam benda-benda lambang (perlengkapan) yang mempunyai kesatuan arti yang sakral (suci).Macam-macam benda lambang itu berbeda dengan benda-benda lambang petani. Namun keduanya mempunyai arti lambang kesuburan, kebahagiaan rumah tangga yang perwujudannya adalah Dewi Sri









BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Rumah Adat jawa merupakan lambang status dan menyimpan rahasia tentang kehidupan penghuninya dan rumah adat jawa pula sangat berkaitan dengan dunia batin yang tidak lepas dari kehidupan masyaarakatnya. Layaknya rumah adat jawa joglo yang mempunyai filosofis tertentu didalam rumah adat tersebut serta jenis rumah adat suku jawa yang terlihat sederhana dan digunakan sebagai lambang atau penanda status sosial serta nilai kebudayaan, yang didalamnya mempunyai keunikan dan ciri khas tersendiri serta fungsi yang berbeda.


Saran

Dari penulisan yang dilakukan di IAIN Tulungagung dan di pusat belajar bersama IAIN Tulungagung maka penulis memberikan saran sebagai berikut: Untuk para pembaca : marilah kita menciptakan inovasi-inovasi baru yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain, dan juga kembangkanlah makalah ini agar dapat menjadi kesempurnaan


DAFTAR PUSTAKA
·         S.Pandanaran, singgih. 2012. Misteri bumi jawa, yogyakarta; In Azna Books.










[1] Singgih s. Pandanaran. Misteri bumi jawa, yogyakarta; In Azna Books, cet I, 2012, hlm.109-110.
[3] http://akucintanusantaraku.blogspot.co.id/2014/02/filosofi-dan-seputar-rumah-adat-jawa.html.

2 komentar: